Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

19 November 2010

Lembah Harau

Dinding Tebing Harau
Jika kita berwisata di Sumatera Barat, tak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi Taman Wisata Lembah Harau yang berada di kabupaten Limapuluh Koto. Lembah Harau adalah sebuah lembah yang diapit oleh tebing batu granit dengan kemiringan 90 derajat alias berdiri tegak secara massif. Ketinggian tebing-tebing ini bervariasi antara 80 hingga 300 meter. Yang membuat kagum selain tinggi serta panjangnya tebing yang menjadi dinding lembah harau tersebut, juga mosaic warna yang muncul antara hitam kecoklatan dan putih dihiasi gumpalan-gumpalan rerumputan dan pepohonan perdu yang menempel di tebing. Sementara di dasar lembahnya terdapat sawah-sawah dan sedikit perkampungan. Melihat kontur dan bentuk lembah ini, sepertinya lembah harau tercipta akibat gesekan bumi maha dasyat yang menyebabkan turunnya massa tanah yang kini menjadi lembahnya.
Salah Satu Air Terjun di Akar Berayun
Terdapat 5 air terjun besar yang berada di dua lokasi yakni satu di Sarasah Buntah dan yang lain berada di Akar Berayun. Selain itu terdapat beberapa air terjun kecil yang mengalir di sepanjang kiri dan kanan jalan. Tinggi ke-lima air terjun tersebut berbeda-beda, antara 50 hingga 90 meter. Sedangkan debit air yang mengalir biasanya tergantung curah hujan yang turun sebelumnya. Ketika saya mendatangi lembah ini yang pertama di bulan November 2009, debit air terjunnya kecil sehingga pengunjung bisa mendekat dan mengambil gambar dengan aman. Sedangkan ketika saya berkunjung ke lembah ini di akhir bulan Januari 2010, debit air cukup besar sehingga menciptakan cipratan air hingga 20 meter dan menerbangkan embun-embun yang membuat pengunjunga tak bisa mengambil gambar dari dekat menggunakan kamera tanpa pelindung water proof.
Udara di lembah Harau cukup sejuk dan cenderung dingin. Hal tersebut karena lembah ini masih berada di dataran yang cukup tinggi. Di pagi dan sore hari, kabut biasa datang dari atas tebing menuruni lembah sehingga menambah keelokan lembah harau. Mendekati ujung lembah, tepatnya 350 meter sebelah kiri dari gerbang lembah harau, terdapat Echo Point, yakni tempat yang menimbulkan efek pantulan bunyi/suara (echo). Di tempat ini disediakan panggung kecil tempat pengunjung membuktikan efek echo dengan  berteriak lantang sehingga akan terdengar pantulan suara di seberang dinding tebing yang berjarak sekitar 300 meter.
Di atas tebing-tebing harau, terdapat hutan yang menurut warga setempat  terdapat suaga marga satwa seluas 250 hektar dan dihuni berbagai hewan liar asli sumatera seperti monyet ekor panjang, beruk, landak, tapir, beruang, berbagai jenis burung serta harimau sumatera.
Menikmati lembah harau kurang pas jika kita tidak menginap di sini. Suasana malam yang sunyi berteman suara berbagai hewan dari atas tebing serta gemuruh air terjun sangat nyaman untuk bersantai. Sementara di pagi hari, kita bisa menikmati turun dan naiknya kabut di sekitar kita serta menikmati kopi dan sarapan mie panas yang disediakan oleh penjual yang berada di sekitar air terjun sarasah buntah.

Jika ingin menginap di sini, terdapat hotel bertemakan resort yakni Lembah Echo Resort dengan bangunan-bangunan yang menyatu dengan alam dan berada tepat di tepi dinding tebing sebelah kiri. Lokasi hotel ini berada di dekat echo point. Kamar yang disediakan bertarif mulai 75 ribu untuk driver (1 orang), 400-600 ribu untuk bungalow yang bisa digunakan untuk 6 orang. Atau bagi mereka yang ingin berkemping, terdapat lokasi kemping di dekat air terjun Akar Berayun.
salah satu bungalow Lembah Echo Resort
Lembah harau berjarak 47 Km dari Bukittinggi dan 15 Km dari kota Payakumbuh. Untuk mencapai lokasi wisata lembah Harau, pengunjung bisa menggunakan angkutan umum ‘Tranex’ atau ‘Sinar Ayah’ ¾ jurusan payakumbuh, dari Payakumbuh lanjut pakai angkot ke Tanjung Pati turun di simpang harau dan melanjutkan dengan bettor (becak motor) yang tersedia di sana. Namun untuk lebih nyaman dan cepatnya, sebaiknya menggunakan kendaraan sewaan. Untuk sewa mobil, biasanya bertarif 250 ribu per hari tanpa supir alias dibawa sendiri, atau carter dg supir plus bensin seharga 400-500 ribu per hari. Sedangkan jika ingin sewa motor, tarif yang berlaku biasanya adalah 50 ribu per hari.
 

7 Oktober 2010

Danau Maninjau




Danau Maninjau adalah sebuah danau vulkanik yg berada di ketinggian 461,50 meter dpl dan berada Kabupaten Agam, provinsi Sumatra Barat. Gempa 30 September 2010 telah mengoyak tebing-tebing yang mengelilingi danau ini. sebagian tebing-tebing curam yang memiliki tinggi antara 200-400 meter ini mengalami longsor sehingga selain mengakibatkan 3 kampung luluh lantak, juga membekaskan mosaic yang mirip cakaran raksasa di sepanjang tebing yang mengelilingi danau. Selain terkenal karena kemilau danau ini di kala pagi hari, danau maninjau juga terkenal karena ikan kerambahnya. Di danau ini juga terdapat ikan khas seperti rinuak (sejenis ikan teri sebesar biji padi) dan ikan bilih yang lebih mirip ikan wader namun lebih panjang.
Dari kota Padang, danau ini dapat ditempuh dalam waktu 3 jam dengan jarak sekitar 140 km. Sementara jika kita dari Bukittinggi, hanya butuh waktu 1 jam dengan jarak 36 kilometer menuruni Kelok 44 yang. Jalur terbaik untuk menikmati danau ini adalah dari Bukittinggi, selain tidak terlalu jauh, sepanjang perjalanan kita bisa menikmati pemandangan khas dataran tinggi yang dihiasi sawah di perbukitan dan lembah serta perkampungan yang asri. Selain itu, dari Kelok 44 kita dapat menikmati danau maninjau secara keseluruhan. Tempat favorit untuk mengambil foto Danau Maninjau berada di kelok 36. Dari sini kita dapat mengambil gambar Danau Maninjau dengan latar depan sawah terasiring dan sebuah bangunan kecil beratap mirip rumah gadang.
Berkeliling danau maninjau merupakan salah satu wisata yang bisa dinikmati dengan menyewa sepeda motor. Berkeliling danau ini membutuhkan waktu satu jam. Jika kita mulai mengelilingi danau dari pusat kampung Maninjau, kita bisa mengabil arah kiri dan kita akan menjumpai perkampungan yang masih didominasi bentuk rumah panggung khas maninjau dengan arsitektur kuno namun bukan rumah gadang, di Sungai Batang terdapat museum Buya Hamka, di sini juga terdapat shelter penampungan pengungsi longsor dari 3 desa di sekitar Maninjau. Namun setelah itu kita akan menyaksikan bekas reruntuhan longsor yang telah menghancurkan perkampungan warga di Pandan, Galapung, dan Batunanggai. Di ujunga danau, kita bisa beristirahat di Muko-muko, di sana terdapat PLTA Maninjau yang juga dijadikan tempat rekreasi oleh warga sekitar. Terakhir kita bisa menikmati keindahan Danau Maninjau mulai dari perpaduan tebing dan perbukitan, sawah, serta barisan pohon kelapa di pinggir danau mulai dari Koto Kaciak hingga Bayur. Di sekitar Maninjau kita bisa menyaksikan beberapa masjid dengan arsitektur yang khas dan menarik.

Banyak pilihan untuk menginap di Danau Maninjau. Kita bisa mendapatkan penginapan atau wisma murah mulai dari seratus ribuan yang banyak berada di sepanjang jalan tepian danau maninjau, terutama di sekitar perkampungan maninjau. Di sini banyak penginapan atau kafe sederhana yang menyediakan penyewaan sepeda bagi para turis untuk sekedar bersepeda di sepanjang jalan tepian danau. Di sekitar danau maninjau pun terdapat beberapa hotel yang menyediakan air panas dan air conditioner. Beberapatempat penginapan atau hotel yang cukup nyaman untuk dijadikan tempat menginap antara lain penginapan Tan Direh yang bertarif 150 ribuan, atau hotel pasir panjang yang bertarif 300 ribuan. Jika menginginkan suasana resort yang berada di ketinggian dengan pemandangan Danau Maninjau di bawahnya, anda bisa menginap di Nuansa Maninjau Resort yang berada di atas kelok 44 dengan tarif kamar mulai 450 ribu.


5 Juni 2009

Pulau Kera

Pulau Kera adalah pulau yang terletak di ambang Teluk Kupang. Pulau ini dapat dijangkau dengan menggunakan perahu nelayan selama kurang lebih satu jam. Dari pantai kupang, pulau ini terlihat seperti garis putih yang tertutup cendawan berwarna hijau gelap. Hal ini karena Pulau Kera adalah pulau pasir yang ditutupi rumput dan tanaman perdu. Luas Pulau Kera tidak dapat ditentukan secara tepat karena sangat tergantung pada pasang surut air laut. Namun menurut warga setempat pulau ini memiliki luas rata2 1,5 Km. 

Sebelum tentara Jepang memasuki wilayah ini, Pulau Kera diceritakan sebagai pulau kecil yang dipenuhi dengan pohon kelapa. Namun saat ini di pulau tersebut hanya terdapat tumbuhan perdu dan di sebagian tempat telah dipenuhi dengan pohon turi.  Untuk menjelajahi pulau ini kita bisa berjalan melalui jalan setapak berpasir yang membelah padang rumput selama 15 menit. Jika ingin mengelilingi pulau, cukup menyusuri tepian pantai yang berpasir putih dan lembut selama 30 menit dan kita akan menemui titik keberangkatan semula.

Menurut cerita penduduk kupang, hingga tahun 80-an Pulau Kera masih belum berpenghuni. Namun saat ini telah terdapat beberapa rumah penduduk nelayan yang berasal dari suku Bajo yang jumlahnya mencapai belasan serta beberapa gubuk peristirahatan di tepi pantai. Seluruh warga di pulau ini adalah nelayan dan petani rumput laut. Fasilitas umum yang ada di pulau ini hanyalah sebuah mushollah kecil serta sumur yang berair payau. Oleh karena itu hingga saat ini warga masih mengambil air tawar dari Kupang atau Semau untuk kebutuhan air minum. 

Pemandangan kota kupang dari kejauhan dapat dinikmati dari pulau ini dengan mudah. Sore hingga malam hari adalah waktu yang tepat untuk menikmati suasana di Pulau Kera.

Kita bisa menikmati senja sambil tiduran di pasir yang sangat halus dan bersih serta memandang matahari terbenam di ujung garis laut. Di malam hari kita bisa merasakan hembusan angin laut lepas disertai deru ombak di tengah kesunyian yang beraroma pasir dan rumput mampu menciptakan sensasi yang mungkin tidak ditemukan di tempat lain.

Jika ingin menelusuri pulau ini, sebaiknya kita menggunakan alas kaki. Meskipun tanahnya hanya berupa pasir, namun terdapat banyak duri-duri kecil yang berasal dari bunga rumput yang mengering. Namun jika anda datang ke Pulau Kera menggunakan perahu nelayan yang berukuran besar, sebaiknya telah memperhitungkan waktu kedatangan dan keberangkatan dengan tepat. Sebagai informasi, Pulau Kera adalah pulau pasir yang relatif landai dengan garis pantai yang sangat tergantung pada ketinggian air laut. Kapal nelayan yang relatif besar tidak akan bisa mendarat di bibir pantai di saat air surut, dan hanya bisa berlabuh jangkar di tempat yang jauhnya sekitar 50-100 meter dari bibir pantai terluar. Jadi, sebaiknya anda segera meninggalkan pulau tersebut sebelum air surut.

4 Juni 2009

Snorkling di Selat Semau

Di bawah ini adalah sebagian kecil dari makhluk laut yang sempat diabadikan dengan kamera biasa saat air surut di Selat Semau, 500 m sebelum Pelabuhan Tenau atau tepatnya seberang Gua Monyet Tenau - Kupang. Lokasi tersebut sangat mudah dijangkau dari Kota Kupang karena hanya berjarak 5 Km dari pusat kota Kupang.

Pemandangan bawah laut tersebut dapat dilihat dengan mudah bersnorkling saat laut surut. Berbagai jenis ikan hias yang bermain di indahnya terumbu karang dapat dijumpai hanya dengan berenang 10-50 meter dari bibir pantai mulai dari ikan badut (Clown Fish), berbagai type ikan Kepe-Kepe, berbagai ikan Keling (Wrasse fish), ikan Lepu Ayam (Scorpion Fish),  trigger kembang, berbagai bentuk Angle fish, butterfly fish / ikan bendera, serta jenis2 ikan karang permukaan lain. jika ingin melihat ikan dasar yang lebih besar atau berbagai jenis udang, perlu memberanikan diri untuk sedikit berenang ke tengah 50-100 meter dari pantai. 

Bagi para snorkler, saat terbaik untuk menikmati makhluk laut adalah saat air surut sedang yang biasa terjadi di pagi hari (07.00-09.00) atau sore hari (15.30-17.30). Hal lain yang bisa dinikmati di tempat ini adalah saat sore hari, dimana selepas bersnorkling kita bisa langsung menikmati sunset dibalik Pulau Semau. jika ingin menikmati berbagai ikan dan udang dasar, sebaiknya hal ini dilakukan saat air surut penuh (meting jauh) di pagi hari (09.00-10.00) yang hanya terjadi pada saat-saat tertentu. Pada saat tersebut, anda dapat berenang di spot-spot Posing (lembah dasar tempat ikan besar berkumpul) yang masih dapat ditembus oleh sinar matahari secara sempurna 2-3 meter dari permukaan air surut. Ikan-ikan yang bisa dijumpai di sini adalah berbagai jenis ikan konsumsi seperti kerapu, kakatua, ikan pari, lobster, bahkan cumi-cumi.





5 November 2007

Jalan-jalan setelah Lebaran

Taman Safari Indonesia II
Di H+3 Lebaran 2007 kali ini aku berkesempatan jalan-jalan dengan keluarga di Taman Safari Indonesia II. Acara jalan-jalan ini sebenarnya rangkaian kegiatan setelah bersilaturrahmi ke sanak famili, acara rutin keluarga di hari lebaran.
Taman Safari Indonesia II (TSI II) terletak di kawasan kaki gunung Arjuna yang masuk di wilayah Kabupaten Pasuruan. Untuk memasuki taman wisata ini bisa ditempuh melalui 2 jalur pintu masuk, dari Pandaan dan juga dari Prigen.
Keramaian jalanan di kawasan wisata mulai dari Pacet, Trawas hinga Prigen cukup terasa. Kendaraan roda 2 maupun roda 4 memadati jalanan di pegunungan Arjuno/Welirang. Kepadatan kendaraan roda 4 makin terasa saat memasuki pintu masuk Taman Safari dari jalur Prigen, meskipun pintu ini adalah pintu kedua, sedangkan pintu utama berada di jalur Pandaan.
Untuk memasuki Taman Safari pengunjung ditarif Rp.35.000 untuk Dewasa dan Rp.30.000 untuk anak balita. Bagi pengunjung yang datang menggunakan motor atau rombongan pengelola menyediakan fasilitas bus keliling, sedangkan bagi yang menggunakan kendaraan roda 4 pribadi pengunjung dapat langsung memasuki kawasan yang dihuni sekitar 200 jenis satwa liar ini dengan kendaraannya. Lokasi Taman Safari yang berada di lereng gunung Arjuno dengan hamparan hutan pinus membuat tempat ini cukup ideal dijadikan tujuan wisata keluarga karena selain dapat berjalan-jalan sambil mengamati berbagai satwa dengan suhu udara yang cukup sejuk, juga disediakan sarana rekreasi keluarga dengan berbagai fasilitas hiburannya yang terletak di area parkir dalam kawasan.
Seperti halnya Taman Safari Indonesia I yang ada di Bogor, di TSI II ini semua satwa penghuninya dilepas di suatu kawasan berikat yang dipagari kawat antara satu pengandangan dengan pengandangan lain. Sistem pengandangan ini disesuaikan dengan sifat dan asal satwa di habitat aslinya. Hal ini sepertinya ditujukan agar antara satu jenis hewan dengan jenis lainnya tidak saling mengganggu. Hal lain yang cukup khas ala Taman Safari adalah keakraban satwa liar dengan mobil pengunjung, hewan bisa berjalan bebas diantara mobil pengunjung, terutama untuk hewan-hewan mamalia yang berasal dari Afrika. Keakraban ini mulai dirasakan pengunjung dari dalam mobil saat mobil memasuki kawasan mamalia, hewan-hewan tersebut dengan pede akan langsung menghampiri kaca jendela mobil yang terbuka berharap ada sesuatu yang dikeluarkan oleh penumpang yang bisa dilahap, persis pengamen dan pengemis di perempatan lampu merah Surabaya. Meskipun pengelola sudah memberi peringatan melalui tulisan yang ditempel di tempat-tempat tertentu untuk tidak memberi makan hewan, namun sepertinya para pengunjung tidak menggubrisnya dengan tetap memberi makanan melalui jendela mobil mereka, begitu juga dengan si hewan yang memang tidak bisa membaca peringatan tersebut. Bahkan untuk beberapa jenis hewan tampak dijaga ketat oleh petugas agar hewan tidak memakan pemberian pengunjung, seperti yang terihat di pengandangan gajah, ketika seekor gajah nekat mendekati sebuah mobil yang menyodorkan sejumput makanan dan langsung melahapnya, rupanya si gajah tidak melihat kalau ada petugas yang tak jauh darinya sedang memperhatikan. Ketika si gajah menyadari bahwa dia sedang dihampiri oleh sang petugas dengan pentungan kayu ditangan, sontak si gajah lari terbiri-birit dan petugas mengejar sambil memukuli kaki si gajah nakal tersebut sebagai hukuman. Pemandangan ini mirip dengan seorang guru yang memukuli murid saat ketahuan melanggar peraturan sekolah. Si Guru yang tidak ramah anak, si petugas yang tidak ramah hewan..


Bersantai di Rm. Sendang Raos
Mencari dan memilih tempat makan terkadang menjadi masalah yang tidak mudah, apalagi bagi orang2 yang sudah rutin dengan kebiasaan makan di luar rumah (anak kos dan sejenisnya). Meskipun pada dasarnya ketika kita lapar, maka orientasi pilihan bukan lagi pada masalah selera, melainkan pada hasrat mengisi perut itu sendiri. Namun dengan makin banyaknya pilihan tempat makan dengan berbagai menu dan konsep suasana yang ditawarkan, maka terpaksa kita harus memilih. Pengalaman pelik dalam memilih tempat makan sering aku alami sebagai anak kos, baik sewaktu di Maumere maupun sekarang di Kupang. Begitu juga jika sedang berada di kampung halaman ketika hendak hangout bersama teman.
Saat ini semakin banyaknya rumah makan berdiri dan wisata kuliner telah menjadi fenomena gaya hidup hampir di semua kota. Untuk menarik pengunjung maka banyak rumah makan menawarkan berbagai daya tarik berupa konsep suasana maupun menu yang disajikan.
Suasana keakraban dan pemandangan alam dengan menu harga terjangkau merupakan konsep yang sepertinya ditawarkan oleh Pak Tjuk melalui Rm Sendang Raos yang berlokasi di Jl Trawas-Mojosari di desa Jatijejer Kec. Trawas. Rumah makan ini menyajikan menu yang sederhana dan terbatas, Cuma terdapat menu ayam lalapan, sari kali (mulai ikan wader hingga nila) tempe/tahu penyet, beberapa makanan khas jawa timuran, dan gurami bakar yang menjadi menu andalannya. Menu ternyata bukan menjadi daya tarik utamanya, tetapi suasana dan pemandangan alam Gunung Penanggungan yang cantik adalah keunggulannya.
Dari jalan rumah makan Sendang Raos hanya dimunculkan oleh papan nama dan gapura, sedangkan rumah makan yang berbentuk pendopo joglo baru ditemukan setelah kita memasuki jalan pelataran sekitar 50 m.
Selain pendopo yang terbagi dalam dua bagian besar yang menghadap langsung ke arah gunung dan sebuah kolam memanjang di depannya, pengunjung juga dapat memilih bungalow kecil yang berada di area parkir mobil dan lebih dekat ke areal perkebunan di sisinya. Di dalam pendopo sendiri dipenuhi dengan hiasan gebyok jati ukir serta terdapat pilihan meja makan atau kursi bayang yang biasanya ada di teras rumah kepala desa Jawa di jaman lampau. Jika ingin berlama-lama sambil bersantai bersama rekan atau keluarga, terdapat papan catur atau alat pancing sederhana yang disediakan secara gratis bagi pengunjung. Kegiatan bersantai tersebut bisa dilakukan saat menunggu menu datang ataupun sehabis menikmati makan sambil menikmati udara sejuk pegunungan dan indahnya gunung Penanggungan dari dekat.
Meskipun suasana dan tata ruang yang ditawarkan cukup berkelas namun harga menu makanan cukup murah dan terjangkau, tidak jauh beda dengan harga makanan di Pasar Legi Mojosari. satu ekor gurami besar plus sambal lalap, nasi sebakul, cah kangkung, tempe penyet, tahu penyet masing2 satu porsi, dan 2 minuman segar hanya seharga Rp.37.000,- Meskipun begitu rumah makan lesehan ini tidak terlalu ramai sehingga cukup nyaman bagi pengunjung yang biasanya datang rombongan dengan mobil. Sepertinya pengunjung adalah para wisatawan dari arah Surabaya atau para keluarga yang sudah menjadi langganannya.
Matur nuwun buat Taki yang sudah mengajak dan mentraktir aku di Sendang Raos ini, next time lagi ya....

15 Agustus 2007

Pantai Kolbano

Pantai Kolbano memang tidak banyak dikenal dan dikunjungi oleh masyarakat di kota Kupang. Hal ini karena untuk melihat pantai yang masuk dalam wilayah Kabupaten TTS ini warga kota Kupang harus menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 130 Km dengan waktu tempuh 3 jam. Namun meskipun tidak begitu populer sebagai tempat tujuan wisata, Pantai Kolbano ternyata menyimpan daya tarik tersendiri yang tidak dapat ditemukan di tempat lain. Pantai yang menghadap ke Samudra Hindia atau laut selatan ini dipenuhi dengan bebatuan kecil berbentuk lempeng dan bertekstur halus layaknya batuan pantai lain. Batu Kolbano, nama itu yang dikenal untuk menyebut bebatuan dari Pantai Kolbano yang telah menjadi komoditi andalan masyarakat di sekitar Pantai Kolbano. Batu Kolbano ini telah ditambang dan diperdagangkan secara resmi sejak tahun 80-an. Batu ini biasanya dipergunakan sebagai batu hias di taman atau di lobi-lobi hotel, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Pagi itu masih jam 6.20 pagi aku dan temen-temen FAU (Fius Alliance Unit) sudah berangkat dari Kupang dengan tujuan Pantai Kolbano. Ternyata melakukan perjalanan pagi itu membawa suasana yang menyegarkan. Udara yang masih segar, sinar matahari memantul di dedaunan, serta melihat aktifitas penduduk di awal hari merupakan pemandangan yang jarang aku temukan. Selama ini perjalanan pagi hanya aku lakukan jika harus bepergian dengan pesawat pagi.
Untuk menuju Pantai Kolbano kita mesti melewati desa-desa dan areal persawahan yang cukup panjang. Hamparan sawah yang hijau dihiasi pohon kelapa dan pohon tuak menciptakan pemandangan yang menggoda naluri photografiku, tapi sayangnya tidak banyak kesempatan untuk berhenti karena mobil yang terus melaju. Dan setelah menempuh perjalanan selama 3 jam lebih yang melelahkan dan nyaris putus asa karena pantai Kolbano serasa semakin menjauh, akhirnya rombongan kami sampai juga di Pantai Kolbano.
Pantai yang cukup panjang ini dipenuhi dengan bebatuan kecil yang didominasi warna putih dan kemerahan. Angin pantai lumayan kencang dengan terik matahari yang menyengat..! di pantai itu hanya disediakan 2 lopo bagi pengunjung, sementara di bagian lain terlihat penduduk sedang mengumpulkan batu yang dikemas dalam karung plastik kecil. Setelah sejenak menikmati suasananya, aksi narcistme langsung dilakukan, jepret sana jepret sini, sedangkan yang lain sibuk memilih-milih batu.. (ngutil dikit) atau sekedar duduk menikmati pantai di lopo kecil. Setelah menghabiskan jatah konsumsi masing-masing di lopo sebagian rombongan melanjutkan aksi narcist sambil menikmati pantai yang sangat indah itu, maklumlah dengan adanya pemandangan bagus didukung dengan model yang bagus pula membuat aksi narcist tidak pernah mati. Dan tepat pukul 2 siang akhirnya rombongan sepakat balik.. yach, rugi lah kita dengan jarak tempuh yang cukup jauh dan waktu menikmati pantai indah ini cukup singkat.



beautiful beach, beautiful stones, beautiful girls..


Valentino Rossi 'versi pasca tabrakan' menghabiskan masa rehat balapan bersama Paris Hilton di pantai

9 Juli 2007

Dari Laut ke Mall

Biasanya orang2 apalagi remaja dan orang muda kalo pergi ke Mall pasti mesti dandan dulu, pake baju yg ok, and ga lupa mandi dulu.. poko'e harus tampil oke de. Tapi kalo ada yang ke Mall berbekal sisa garam air laut di badan... ga pake mandi/bilas dulu... ga pake ganti baju.. pokoknya dari laut langsung ke mall? ... pasti itu nelayan yang mo beli kail di supermarket!
Ceritanya gini..
Seperti biasa, di hari libur acaranya ke laut tuk snorkling. kali ini pilihannya ke Tablolong nun jauh di ujung barat pulau Timor... sst, tapi ini bukan cerita tentang Pantai Tablolong!.
setelah kecapean mandi laut (maunya sih snorkling tapi air ga juga surut), aku ikut hunting kerikil dan batu2 di tepi pantai sama To'o Toni dan mbak Andriani. lumayan kerikil dan bebatuannya bagus2, buat nambah koleksi. jam 5.30 kami segera meninggalkan Tablolong dan ngebut pulang karna mbak Andri mo kejar bis luar kota. meski hari mulai gelap dan angin dingin cukup kencang, kami nekat ngebut terus di jalan sepanjang 25 kiloan itu sampe mirip si Komeng... kan motornya samaa! bedanya jaketku ga sampe robek2, tapi celana si Imsak yang robek2..
sampe di Kupang, to'o Toni dan mbak Andry langsung pulang sementara aku dan Imsak mampir ke Bakso Ratu Sari di dekat Flobamora Mall. Dingin2 makan bakso en teh hangat.. mak Nyos!. habis bakso Imsak ngajak ke mall tuk belanja sembako, kebetulan aku juga perlu bekal tuk ke Amarasi.
Pengunjung di mall ternyata lagi penuh, sampe parkiran pun mesti mepet2. sebelum ke supermarketnya kami liat2 stand home entertainment dikira calon pembeli serius, seorang penjaganya melayani dan menjelaskan pada kami dengan antusias (ga tau apa kalo lagi bokek!). Puas dari situ kami mau langsung ke supermarket, tapi aku harus mengeluarkan kerikil2 dari kedua kantong di jacket tuk dijadiin satu di dalam tas, cuek aja aku keluarin kerikil2 dari jacket di atas meja penjaga.
Di dalam supermarket di lantai bawah itu kita muter2 liat barang, mulai gelas buat naruh batu sampe minuman ringan, liatnya sih banyak tapi belanjanya dikit. keluar dari supermarket Imsak mo beli sepatu, jadi terpaksa nemenin dia di counter yang berada tepat di hall tengah itu. sementara Imsak yang kali ini mirip pemulung pantai itu coba sana coba sini, pas sana pas sini... aku duduk di kursi pas yang dibelakangnya ada cermin tembok. Dan ketika coba ngaca di cermin itu... Wow, oh my....!!!*-#?
ternyata aku berantakan... rambut awut2-an campuran sisa garam laut yang dipermak angin jalanan, muka lusuh ga jelas maknanya, celana setengah tiang yang masih basah, dan sandal pun masih berpasir.. jadi dari tadi tuh aku seperti ini ya? keliling di mall? mirip nelayan terdampar? ada orang yang kukenal ga yang liat?....

4 Juli 2007

Malang Tempo Doeloe, Festival

Saat dapat kesempatan travel dari kantor tuk ke Jakarta di bulan Maret 2006, aku sempatkan singgah di rumah beberapa hari. Saat itu juga aku gunakan kesempatan tuk ngunjungi Kota Malang, kebetulan ada kerabat yang punya rumah di Malang dan pas juga ada teman SMA yang juga lagi berada di Malang. Memasuki Kota Malang membawa ingatan pada teman2ku alumni SOB Malang, eventhough choosen SOB was one of two big mistakes in my life time, another is come to Kupang....
Back to Malang... Saat muter2 kota Malang dg temenku aku sempat membaca spanduk acara festival tempoe doeloe di Jl Ijen. Spanduk itu membawa aku dan temanku mengakhiri acara jalan2 di Jl Ijen yang juga dulu menjadi lokasi kampusku. Ternyata acara festivalnya masih ada.... Jl. Ijen yang biasanya tenang dan nyaman buat jalan2 kali itu menjadi ramai oleh pengunjung festival dan segala atribut bernuansa tempo doeloe, termasuk sebagian pengunjung pun menggunakan pakaian atau kendaraan tempoe doeloe. Dan inilah foto2nya...
<== Mr. Mi(f)taki mo naek dokar

Merdeka... Merdeka...!
kalo gadis2 tempo doeloe aja kayak gini, apalagi gadis tempo kini ya?

Bekas mobil RI #1


Pak Pulisi.. Ada perampok yg pake dasi, tapi naik sedan... bisa dikejar gak?
...waah ga bisa dhik, lha wong saya cuma ngonthel..















20 Juni 2007

Jalan-jalan di Akhir Pekan

Jumat 15 Juni, mbak Tanti ngajak jalan-jalan bareng genk 'petualang' (me, Imsak, MasTo'o Toni, dan mbak Tanti) buat nemani Tiza yang akan segera balik ke Makassar 2 hari lagi. ya, sudah 4 hari Tiza (tanpa hrf 'r' di tengah) datang di Kupang tuk ngebantu kami dalam database. Rencananya seh kita akan jalan pas jam bubar kantor dengan tujuan ke pantai liat sunset dengan tujuan pertama ke pantai Lasiana, tapi karna satu dan lain hal kita baru bisa jalan jam 5.20pm, padahal akhir2 ini matahari cenderung lebih cepat tenggelam (dah males nyinari bumi). Ternyata belum lagi kami sampai di Lasiana, mentari sudah tenggelam, jadinya kami hanya bisa melihat bias jingga matahari di antara siluet nyiur pantai. Dan kami hanya bisa menikmati hidangan pisang bakar dan air kelapanya. sebenarnya bagiku Lasiana itu bukan tempat yang menyenangkan, bahkan tidak ada dalam kamus jalan-jalanku, tapi karena mau ikut acara jalan-jalan, akhirnya aku pun sampai di Lasiana.
Dari pantai Lasiana kami pun melanjutkan ke terminal Kupang yang ramai di malam hari, dan setelah puas nongkrong2 serta hunting suvenir, acara jalan-jalan malam itu diakhiri dengan makan malam di sebuah warung pojok.
Sabtu 16 Juni, sesuai kesepakatan kami akan jalan-jalan lagi, tapi kali ini acaranya cuma makan siang di tepi laut Tenau sambil snorkling. Acara yang direncanakan mulai jam 12.30 siang itu sekali lagi molor sampai jam 2.30. Meskipun ada kendala kurangnya motor, namun akhirnya bisa disiasati dengan menggunakan jasa 'Ojek'. sesampainya tempat tujuan yang berada tepat di bawah goa monyet tenau itu acaranya adalah makan ikan bakar yang dibeli di pasir panjang.

Ada yang aneh di pantai yang dibatasi batu karang yang tajam itu, biasanya di sini selalu sepi dan nyaris tidak terdapat orang atau pengunjung, tapi kali ini banyak orang yang sedang menambang pasir dan sesekali terdapat truk pengangkut pasir lewat di atas. Ternyata ada penambangan pasir (liar??) dengan menggunakan penduduk setempat sebagai tenaganya. sebelumnya beberapa kali aku sempat ke sini hanya untuk berenang di laut yang sepi dan menikmati 'laut meeting' atau saat air laut surut yang membuat bunga2 karang bisa dilihat dengan jelas dengan ikan-ikan kecil di antaranya.
Kali ini aku dan Imsak 'si bocah Kemplo' membawa alat snorkling masing-masing, dan tanpa menunggu lama Imsak langsung 'bermain air' berenang di kejauhan yang kemudian aku susul. ini acara snorklingku yang kedua setelah sebelumnya aku dan Imsak mencoba di Tablolong. Ternyata ikan-ikan yang bermain di bunga karang di Tenau ini jauh lebih berani bahkan sedikit 'jinak' ketika didekati, dengan begitu aku bisa lebih lama menikmati ikan-ikan karang yang bentuknya 'aneh-aneh' itu berkeliaran di sekitarku.
Saat suasana mulai gelap kami segera beranjak pergi dan akhirnya acara jalan2 kali ini dituntaskan di rumah dengan menikmati minuman hangat buatan sendiri.

30 Mei 2007

Nemberala, Rote

Setelah menempuh perjalanan 1,5 jam dengan Feri express dilanjutkan dengan perjalanan motor 1 jam, akhirnya kami berempat dapat melihat pintu gerbang desa ‘Selamat Datang di Pantai Wisata Nemberala’.
Ada beberapa hotel dan homestay di sekitar pantai Nemberala dengan tarif mulai puluhan ribu hingga ratusan ribu per malam, tapi akhirnya kami memilih penginapan milik Pak Thomas dengan pertimbangan sedang tidak ada pengunjung dan juga murah.

Desa Wisata Nemberala terletak di tepian pantai termasuk kecamatan Rote Barat Daya. Desa ini berpenduduk lumayan padat dengan bentuk rumah yang sebagian besar sudah berplester dan beratap seng, hanya sebagian yang masih menggunakan bebak dan atap alang-alang. Secara sepintas warga di desa ini termasuk berkecupan jika dibandingkan dengan beberapa desa yang sebelumnya kami lewati, menurut penuturan pak Thomas, kesejahteraan warga di sini ditopang dari komoditi rumput laut yang ditanam di sepanjang pantai Nemberala. Di sepanjang jalan dan juga di sekitar rumah warga terdapat pohon kelapa yang menjulang tinggi dan daunnya saling merapat sehingga meneduhkan sebagian besar desa ini. Di sore hari, beberapa orang yang sebagian besar perempuan paruh baya terlihat menyisir tepian pantai dengan berbekal karung ataupun keranjang yang terbuat dari tali buatan sendiri di pundak. Dengan seksama mereka mencari dan memunguti potongan-potongan rumput laut yang terbawa ombak hingga ke tepian pantai. Jika karung atau keranjang mereka penuh, maka mereka beranjak pulang untuk menjemur rumput laut tersebut.
Suasana yang sama juga terlihat di pantai di pagi hari, bahkan lebih banyak lagi orang yang berada di pantai karena selain para pencari rumput laut juga terdapat orang-orang yang sedang membersihkan atau sekedar memeriksa tanaman rumput laut mereka di pinggiran laut. Suasana ini semakin ramai oleh banyaknya binatang anjing dan babi yang berkeliaran di pantai.
Pantai Nemberala sudah lama dikenal sebagai tempat berselancar bagi turis mancanegara, sebagian besar turis yang datang di sini berasal dari Australia dan menginap rata-rata seminggu hanya untuk bermain gelombang air laut. Biasanya musim padat pengunjung di desa Nemberala adalah mulai pertengahan Juli hingga bulan September. Ombak di sini memang cukup ideal bagi peselancar, karena ombaknya yang cukup panjang dan lumayan tinggi menurut para peselancar memberi kepuasan tersendiri dalam bermain papan selancar. Hal ini ditunjang juga dengan indahnya pantai yang masih tergolong alami dengan rumah-rumah penduduk yang sebagian masih tradisional menambah nilai tersendiri sebagai tempat tujuan wisata pantai. Hanya saja
Akses jalan dari Ba’a menuju desa ini memang sedikit menghambat perjalanan wisatawan. Selain jaraknya yang lumayan jauh juga kondisi jalan yang lebih banyak rusak.
Selama 3 hari 2 malam berlibur di desa Nemberala cukup memuaskan kami berempat. Kami telah mengunjungi beberapa tempat wisata yang semuanya di kawasan pantai. Ada Pantai Boa yang disiapkan khusus untuk festival surfing dengan gelombangnya yang cukup dekat dengan bibir pantai. Kami juga mengunjungi pantai Fimok yang memiliki batu karang yang menyerupai pintu gerbang. Kami juga telah merasakan nikmatnya mandi dan bermain di pantai Nemberala bersama para peselancar asing, bahkan dengan berbekal papan selancar sewaan dari pak Thomas kami mencoba belajar berselancar meskipun tidak pernah bisa berdiri di atas ombak. Sebelum mengakhiri perjalanan di Rote kami sempatkan untuk melihat batu Termanu yang berupa gundukan bukit batu yang menjulang tinggi di tepi laut. Namun sayangnya perjalanan kami diakhiri dengan keterlambatan kapal feri di pelabuhan pantai baru hingga 3 jam.

Tips :
  • Jika ingin membawa motor menggunakan Fery Express, sebaiknya kurangi BBM di tangki motor, karena sebelum naik tanki motor diperiksa dan akan disedot jika terlihat penuh.
  • Cari hotel atau penginapan yang sekaligus menyediakan makanan, karena di Nemberala belum tersedia rumah makan / warung.
  • Jika tidak memakai kendaraan sendiri, sebaiknya menggunakan jasa bemo carter untuk mempercepat waktu tempuh.
  • untuk ketepatan waktu, gunakan Fery Express meskipun harus membayar lebih mahal; 75rb per orang, 100rb untuk motor, sedangkan fery biasa cukup 38 ribu per orang.

29 Mei 2007

Kelimutu



Gunung Kelimutu dapat ditempuh dalam 3-4 jam perjalanan dari kota Maumere. Atau jika kita beranjak dari kota Ende, perjalanan hanya memakan waktu sekitar 2 jam. Namun sebagian besar para turis (khususnya Wisman) lebih banyak berangkat dari kota Maumere karena mereka menghabiskan waktu sebelumnya dengan menikmati beberapa tempat wisata pantai atau diving di sekitar kota Maumere.

Di akhir bulan Desember 2006 lalu aku dapat kesempatan mengunjungi Kelimutu untuk yang kedua kali setelah di awal tahun 2004 aku pertama kali ke sana. Kebetulan saat itu aku yang masih berkantor di sebuah NGO di kota Maumere diajak temanku yang ingin menggunakan kesempatan saat di Maumere untuk melihat danau Kelimutu. Perjalanan dimulai pukul 03.30 dini hari, Sepanjang perjalanan yang berliku-liku melewati bukit dan lembah tidak dapat dinikmati karena hanya gelap di luar serta goncangan mobil Rocky Independent yang dikebut oleh om Moce yang kami rasakan.
Memasuki desa Moni di kaki gunung Kelimutu, keadaan di luar mulai terang, namun justru aku malah merasakan mual akibat mabok perjalanan. Maklumlah, dengan kondisi badan yang kurang fit akibat kurang tidur serta perut yang kosong dan diguncang-guncang di atas mobil mengakibatkan mual yang tidak tertahan. Setelah sempat istirahat sejenak menghilangkan mual, akhirnya perjalanan dilanjutkan. Memasuki gerbang masuk kawasan wisata Moni, kami harus membayar tiket masuk, 4ribu per orang.
Mobil kami terhenti di parkiran terakhir, dan tanpa diaba-aba 5 orang di dalamnya langsung berkemas, Pak Teno, Duma, om Moce, Wayan dan aku sendiri mulai menapaki tangga-tangga setapak menuju ke danau Kelimutu, jam di HP menunjukkan pukul 06 pagi lewat. Ternyata ada seorang laki-laki tua berjaket biru yang tanpa diminta bersedia menemani kami sambil membawa thermos dan seperangkat alat minum yang ditaruh di tas ranselnya. Beliau ini ternyata warga di desa terdekat yang berjarak sekitar 4 Km di bawah tempat parkir mobil terakhir. Pekerjaan sehari-harinya selain menjual minuman hangat buat wisatawan di pagi hari, juga sebagai petani sayur di siang hari.
Udara pagi pegunungan cukup menyemangati kami menaiki setapak demi setapak. Angin yang lumayan kencang menimbulkan suara yang berirama dari pepohonan cemara, ditingkahi dengan kicauan berbagai burung yang bersahutan mampu mengalahkan kelelahan yang kami rasakan. Semakin mendekati puncak danau Kelimutu, semakin kami merasakan suasana magis, alam begitu hening di antara tiupan angin dingin, warna-warni langit dipadu dengan hijaunya hutan yang sebagian masih ditutupi kabut tipis sepertinya membawa suasana yang sulit ditemukan ditempat lain. Meskipun aku sudah pernah mengunjungi tempat ini sebelumnya, namun sepertinya aku baru pertama kali berada di tempat ini. Mungkin karena saat ini tidak ada pengunjung lain yang kami temui selain aku dan keempat temanku, maklum karena kami berkunjung di hari Kamis.


Akibat terlalu sering beristirahat dan menikmati suasana, akhirnya aku menjadi orang paling akhir yang mencapai puncak Kelimutu yang ditandai dengan tugu dan prasasti yang bertuliskan kata-kata tentang riwayat dan nilai-nilai leluhur. Dari puncak ini, terlihat jelas ketiga danau yang airnya berwarna di sekiling kami, juga hamparan hijau bukit yang bergunduk-gunduk tersebar di segala sisinya. Pandangan yang cukup luas ini seakan dibatasi oleh awan yang tersebar di kejauhan. Dari ketiga danau kawah tersebut ternyata 2 di antaranya telah mengalami perubahan warna sejak aku datang pertama kali. Kawah terkecil yang berada di dekat tugu yang dulunya berwarna putih saat ini telah berwarna hitam pekat, kawah yang paling bawah yang dulunya berwarna hitam kini sedikit berubah menjadi agak coklat pekat. Sedangkan danau yang terbesar tetap berwarna hijau permata yang cukup terang.
Setelah puas mengabadikan segala sudut dan menikmati suasana sambil minum kopi dan teh panas dari pak Tua yang menemani, akhirnya kami sepakat turun karena takut pak Teno terlambat pesawat di Maumere. Ternyata benar kata orang bahwa berapa kali pun kita datang ke Kelimutu tetap kita akan merasa suasana magis yang berbeda, satu lagi keajaiban karya Tuhan yang bisa kita nikmati.