Setelah lama menjadi bahan perdebatan, akhirnya kantor menyetujui untuk menyelenggarakan acara team building selama sehari penuh. Padahal sebelumnya hanya diberikan waktu setengah hari, dan semua staf Kupang menolaknya.
Tanggal 27 Juni jam 9.00 pagi seluruh rombongan yang merupakan all staff StC Kupang (tanpa 2 Bos Bule..) berangkat dari kantor dengan menggunakan innova dan bis Damri. Setengah jam kemudian kita sudah sampai di lokasi, tempat wisata Air Terjun Oenesu yang berlokasi di arah Kupang Barat. Setelah menurunkan barang2 bawaan dari mobil dan menentukan lokasi buat base, masing2 orang langsung menjalankan tugasnya. Imsak n Daniel menyiapkan segala perlengkapan, Tasman dkk kebagian menyiapkan dan memandu acara team building, sedangkan me n Xabi langsung menyiapkan tempat barbeque.
Acara team building pertama adalah berbaris di atas balok berdasarkan urutan usia. Awalnya aku kira tidak akan bisa berpindah posisi dengan tetap berdiri di atas sebatang balok yang tidak stabil, tapi ternyata dengan strategi, usaha keras, dan kerjasama kita bisa melakukan dengan sukses. Acara kedua adalah permainan bola tangan, kegiatan ini layaknya permainan softbol, tapi sayangnya aku tidak bisa ikut karena harus mempersiapkan ikan yang akan dibakar. Dan setelah lelah dengan permainan bola tangan dan beristirahat sejenak, acara berikutnya adalah pembakaran!. Semua orang berpartisipasi dalam acara yang satu ini, ada yang sibuk mengipasi bara, ada yang sok ngatur posisi besi pemanggang, ada juga yang semangat mengoles bumbu yang aku buat malam sebelumnya. Bu Yuli pun akhirnya menangis, bukan karena sedih, tapi tak tahan bermandikan asap panggangan. Sambil menunggu ikan dan ayam rampung dipanggang, para pejantan mengadakan pertandingan sepak bola. Ternyata permainan ini membunuh kami... lama tidak pernah berolahraga terutama sepakbola, kami berpacu dengan detak jantung yang nyaris pecah!.
Jam 11.30, acara yang paling ditunggu semua orang telah siap. Santap siang ikan dan ayam bakar!. Terpal dibentang, 4 ikan bakar berukuran jumbo, 3 ayam bakar setengah gosong, lalapan, sambal kacang kecap dan sambal tomat, satu box minuman dingin berbagai jenis, semua telah siap di atas terpal. Tanpa dikomando semua orang langsung menyerbu ke tengah, dan yang paling laris adalah ikan bakar plus sambal. Sayangnya aku tidak bisa menikmati limpahan sajian ikan bakar ini dengan sempurna. Sisa-sisa kelelahan dan jantung yang belum berdetak stabil membuat selera makanku berkurang. Tapi meski begitu, akhirnya aku pun larut dalam kenikmatan santap siang ini.
Ternyata usahaku bersama om Xabi semalam tidak sia-sia, banyak pujian untuk sambal dan bumbu ikan buatanku. Padahal aku sempat panik setelah experimen sambal yang diblender aku anggap gagal total karena penampilannya lebih mirip sambal bakso. Tapi ternyata rasanya tidak jauh berbeda dengan sambal uleg, dan tidak ada yang mengeluh dengan sambalnya.
Usai santap siang, semua terlihat kelelahan, lelah karena rakus alias kekenyangan. Acara berikutnya adalah turun ke air terjun.
Puas dengan mandi, kami kembali lagi ke base semula untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum usai yakni menghabiskan sisa-sisa ikan bakar dan kawan-kawannya, termasuk pisang bakar yang sebelumnya tak tersentuh. Kali ini ada sebagian teman yang membeli minuman beralkohol, jadilah folk party ala orang NTT. Duduk melingkar ditemani minuman keras, daging, ikan bakar, gitar, dan gelas pun berputar. Aku tidak ikut di acara itu, aku memilih bergabung dengan Ma’Susana dkk (ini kan hari Jum’at, mestinya aku tadi ke Mesjid ya...) astaghfirullah.
Setelah semua menu sajian ludes kecuali cold softdrink, Tasman-Tanti memfasilitasi kami dalam acara kereta buta. Mata kami ditutup dan harus berjalan mengikuti alur yang disediakan dipandu oleh seorang pemimpin.
Acara yang cukup sederhana dan singkat ini telah mampu mempersatukan kami sebagai satu team. Bahkan on Nand mengatakan, ”Su delapan taon be kerja di StC, tapi baru sakarang be rasa merdeka”. Ya, semua orang terlihat puas dan bergembira selama seharian ini. Namun sayangnya acara ini juga bagian dari acara perpisahan dengan seorang anggota team, Imsak yang sebentar lagi akan mengakhiri masa kerjanya di Kupang.