27 Oktober 2008

Wonderful Moment

Meskipun tidak jadi ke Rote lagi karna ketinggalan kapal.... tapi tetap menikmati waktu yang ada, bersama..






















9 Juli 2008

Team Building StC Kupang





Setelah lama menjadi bahan perdebatan, akhirnya kantor menyetujui untuk menyelenggarakan acara team building selama sehari penuh. Padahal sebelumnya hanya diberikan waktu setengah hari, dan semua staf Kupang menolaknya.
Tanggal 27 Juni jam 9.00 pagi seluruh rombongan yang merupakan all staff StC Kupang (tanpa 2 Bos Bule..) berangkat dari kantor dengan menggunakan innova dan bis Damri. Setengah jam kemudian kita sudah sampai di lokasi, tempat wisata Air Terjun Oenesu yang berlokasi di arah Kupang Barat. Setelah menurunkan barang2 bawaan dari mobil dan menentukan lokasi buat base, masing2 orang langsung menjalankan tugasnya. Imsak n Daniel menyiapkan segala perlengkapan, Tasman dkk kebagian menyiapkan dan memandu acara team building, sedangkan me n Xabi langsung menyiapkan tempat barbeque.

Acara team building pertama adalah berbaris di atas balok berdasarkan urutan usia. Awalnya aku kira tidak akan bisa berpindah posisi dengan tetap berdiri di atas sebatang balok yang tidak stabil, tapi ternyata dengan strategi, usaha keras, dan kerjasama kita bisa melakukan dengan sukses. Acara kedua adalah permainan bola tangan, kegiatan ini layaknya permainan softbol, tapi sayangnya aku tidak bisa ikut karena harus mempersiapkan ikan yang akan dibakar. Dan setelah lelah dengan permainan bola tangan dan beristirahat sejenak, acara berikutnya adalah pembakaran!. Semua orang berpartisipasi dalam acara yang satu ini, ada yang sibuk mengipasi bara, ada yang sok ngatur posisi besi pemanggang, ada juga yang semangat mengoles bumbu yang aku buat malam sebelumnya. Bu Yuli pun akhirnya menangis, bukan karena sedih, tapi tak tahan bermandikan asap panggangan. Sambil menunggu ikan dan ayam rampung dipanggang, para pejantan mengadakan pertandingan sepak bola. Ternyata permainan ini membunuh kami... lama tidak pernah berolahraga terutama sepakbola, kami berpacu dengan detak jantung yang nyaris pecah!.
Jam 11.30, acara yang paling ditunggu semua orang telah siap. Santap siang ikan dan ayam bakar!.
Terpal dibentang, 4 ikan bakar berukuran jumbo, 3 ayam bakar setengah gosong, lalapan, sambal kacang kecap dan sambal tomat, satu box minuman dingin berbagai jenis, semua telah siap di atas terpal. Tanpa dikomando semua orang langsung menyerbu ke tengah, dan yang paling laris adalah ikan bakar plus sambal. Sayangnya aku tidak bisa menikmati limpahan sajian ikan bakar ini dengan sempurna. Sisa-sisa kelelahan dan jantung yang belum berdetak stabil membuat selera makanku berkurang. Tapi meski begitu, akhirnya aku pun larut dalam kenikmatan santap siang ini.
Ternyata usahaku bersama om Xabi semalam tidak sia-sia, banyak pujian untuk sambal dan bumbu ikan buatanku. Padahal aku sempat panik setelah experimen sambal yang diblender aku anggap gagal total karena penampilannya lebih mirip sambal bakso. Tapi ternyata rasanya tidak jauh berbeda dengan sambal uleg, dan tidak ada yang mengeluh dengan sambalnya.
Usai santap siang, semua terlihat kelelahan, lelah karena rakus alias kekenyangan. Acara berikutnya adalah turun ke air terjun.
Diawali dengan permainan menyumbat galon bocor. Ternyata kegiatan ini memicu acara seru berikutnya, mandi!. Karena banyak yang terlanjur basah akibat bocoran air dari galon, maka satu per satu teman2 nyebur ke air. Sebagian hanya bermain di antara aliran air terjun. Acara ini cukup seru karena semua orang mendadak bertingkah aneh (di luar watak dan kebiasaan di kantor), tidak beda dengan anak-anak remaja (padahal banyak yang sudah punya anak berusia remaja), bahkan narsis semua. Ternyata kegilaan kami berhasil mengusir beberapa kelompok anak remaja yang sebelumnya menguasai air terjun, mungkin mereka takut ketularan tua!. Jadilah air terjun Oenesu milik StC-Kupang Team.
Puas dengan mandi, kami kembali lagi ke base semula untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum usai yakni menghabiskan sisa-sisa ikan bakar dan kawan-kawannya, termasuk pisang bakar yang sebelumnya tak tersentuh. Kali ini ada sebagian teman yang membeli minuman beralkohol, jadilah folk party ala orang NTT. Duduk melingkar ditemani minuman keras, daging, ikan bakar, gitar, dan gelas pun berputar. Aku tidak ikut di acara itu, aku memilih bergabung dengan Ma’Susana dkk (ini kan hari Jum’at, mestinya aku tadi ke Mesjid ya...) astaghfirullah.
Setelah semua menu sajian ludes kecuali cold softdrink, Tasman-Tanti memfasilitasi kami dalam acara kereta buta. Mata kami ditutup dan harus berjalan mengikuti alur yang disediakan dipandu oleh seorang pemimpin.
Bu Yuli sukses memandu kelompokku, sementara om Is harus kehilangan sebagian gerbong yang tertabrak kelompok kami. Acara dilanjutkan dengan permainan yang klasik, mengisi bulpen dalam botol. Permainan ini terbilang kurang seru, Cuma bermakna kerjasama dan kekompakan. Acara terakhir adalah refleksi bersama dan joget Ja’i dengan menggunakan musik dari tape bis Damri.
Acara yang cukup sederhana dan singkat ini telah mampu mempersatukan kami sebagai satu team. Bahkan on Nand mengatakan, ”Su delapan taon be kerja di StC, tapi baru sakarang be rasa merdeka”. Ya, semua orang terlihat puas dan bergembira selama seharian ini. Namun sayangnya acara ini juga bagian dari acara perpisahan dengan seorang anggota team, Imsak yang sebentar lagi akan mengakhiri masa kerjanya di Kupang.
Dan akhirnya, terima kasih untuk Ibu Karin Johnson. Atas kehadiran beliau sebagai Acting PM di Kupang yang kemudian memberi approval acara ini dilaksanakan selama sehari penuh, kami bisa menyelenggarakan acara team building ini.



6 Mei 2008

Complicated

Orang bijak bilang ; ”Orang hidup itu pasti pernah berbuat salah. Semua orang pernah jatuh, tapi sebodoh-bodohnya manusia adalah dia yang jatuh di lubang yang sama”.
Itu adalah perkataan orang bijak, karena aku bukan orang bijak, maka aku tidak berani berkata apa-apa...???!!

Mungkin catatan ini akan menjadi bahan refleksi hidupku ketika kubaca lagi nanti, mungkin juga hanya menjadi bahan lelucon bagi anak cucuku kelak..

”Aku gak mau kamu nelpon hanya untuk bicara yang tidak berbobot”
”Gak berbobot gimana? Aku kan mau tahu kabarmu”
”Kamu kayak anak SD lho, bego gitu, berapa sih usiamu? Sudah tua kan?”
”maksudmu”
”Aku bukan orang yang goblok, yang pura2 bersikap ga peduli, seolah tidak pernah ada apa2, aku ga mau berjalan tanpa arah”
Seperti biasanya, tiba2 aku menjadi bodoh, segoblok yang dia katakan. Aku tidak bisa berkata-kata. Tapi akhirnya pecah juga kebuntuan itu,
”Aku sudah mencoba mencari celah itu, tapi sepertinya tidak ada, Aku tidak dibesarkan di lingkungan yang memungkinkan aku jadi pemberontak”
”pemberontak? Bukan pemberontak, tapi kita hanya berani memutuskan hidup kita sendiri”
Ttttiiiitttt pulsaku habis.

Terlalu banyak yang terlintas, terlalu banyak kenangan.
Terlalu dalam jurang yang ada..
Tidak ada yang bisa menjadi jembatan, menurut pandanganku yang picik dan naif.

Jika kami mencoba melompat, tentu akan terjatuh ke dasar jurang. Ada dua kemungkinan, kami akan hancur berantakan di dasar dan musnah, atau kami akan terjatuh di dasar air jurang dan selamat, tapi kemudian kami tetap harus mendaki terjalnya bibir jurang itu...bisa saja salah satu dari kami akan jatuh lagi.
Tiba2 ketakutan itu datang lagi. Dalam ketakutan itu aku lebih menggunakan logika daripada perasaan.
Dan dia benar, kami tidak bisa hanya berdiri terus di tepi jurang..

Then I have to make decision, a very big decision!

Aku tinggalkan jurang itu dan mencari jalan pulang… jalan lain yang lebih mudah, meski harus membawa lagi hati yang telah luluh lantak, meninggalkan yg aku sayangi. Tapi aku yakini jalan ini yang lebih baik.
Aku tengah melakonkan tokoh seorang Pengecut,
Lebih cocok disebut Pecundang..Aku benci lakon ini!

30 April 2008

Nasib Pendidikan di Pedalaman

Kondisi Pendidikan di Indonesia Yang Masih Timpang

Melihat kondisi pendidikan di Indonesia saat ini, sulit untuk membuat gambaran umum untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya. Saat ini masyarakat sedang ramai-ramainya membicarakan Ujian Nasional (UN) yang sedang berlangsung. Terdapat dua pendapat umum, yakni masyarakat yang mendukung dengan alasan untuk meningkatkan standar pendidikan nasional, dan masyarakat yang menolak dengan alasan ketidaksiapan dan kekhawatiran dari para murid, orang tua, serta guru sendiri.
Sebenarnya yang perlu dilihat adalah sampai sejauh mana peran pemerintah dan masyarakat dalam menyediakan pendidikan yang berkualitas kepada semua warga negara. Jika sekilas kita melihatnya pada sekolah-sekolah unggulan yang ada di kota, mungkin kita bisa berbangga dengan kondisi pendidikan kita saat ini. Apalagi jika yang kita lihat adalah sekolah-sekolah elite seperti Pelita Harapan, Al Azhar, atau BPK Penabur. Sekolah-sekolah tersebut sudah sangat mapan dalam hal fasilitas dan kualitas. Para murid dan guru dari sekolah sekolah elit selalu dimanja dengan fasilitas pendidikan yang lengkap dan mutakhir. Segala proses pembelajaran dijalankan dengan nyaman dan mudah sehingga dapat menghasilkan keluaran yang berkualitas. Namun perlu dianalisa lebih jauh, seberapa besar persentase anak negeri ini yang bisa mendapat pendidikan berkualitas seperti di atas.

Tak banyak yang mengetahui atau peduli dengan nasib pendidikan di wilayah-wilayah pedalaman Nusantara. Banyak anak di pedalaman Nusantara yang bernasib malang karena tak dapat memperoleh pendidikan yang bermutu.

Melihat kondisi pendidikan di wilayah pedalaman NTT

Di beberapa perkampungan atau dusun di pedalaman NTT, anak-anak harus berjalan kaki 1-2 jam sejauh hingga 6 Km melintasi hutan dan menuruni bukit untuk mendapatkan pendidikan di sekolah setiap hari. Pengorbanan anak-anak tersebut terkadang sia-sia karena ketika sampai di sekolah, tak ada guru yang siap mengajar. Tak jarang setelah berlelah-lelah berjalan kaki dari rumah tanpa sarapan pagi, si anak harus kena marah atau bahkan hukuman fisik dari guru karena terlambat masuk kelas. Dan akibatnya si anak enggan ke sekolah keesokan harinya dan kemudian dia memilih untuk tidak ke sekolah sama sekali selamanya. Potret umum siswa di pedalaman memang sangat memprihatinkan, murid2 ke sekolah hanya membawa 1-2 buku tulis dan 1 bulpen/pensil yang disimpan dalam tas kresek, bersandal jepit atau malah telanjang kaki.
Tidak terbiasa berbicara pada orang dewasa, pemalu dan tidak percaya diri.

Nasib para guru di pedalaman pun tak kalah memprihatinkan, terutama para guru honorer yang kebanyakan honor komite. Para guru tersebut banyak yang harus mengajar 2-3 kelas sekaligus. Hal ini karena kekurangan tenaga guru di sekolah pedalaman. Guru yang hanya bergaji 100-300 ribu sebulan itu banyak yang dipaksa bekerja ekstra keras bahkan terdapat ‘tuntutan psikologis’ untuk bekerja lebih besar daripada guru PNS karena status tidak tetap sebagai guru honorer lebih rentan daripada guru berstatus PNS yang meskipun sebulan tak mengajar di sekolah pun masih akan tetap menerima gaji. Di beberapa sekolah yang penulis temui baik di wilayah Sikka maupun di Kabupaten Kupang, hanya ada 1 atau 2 guru PNS termasuk kepala sekolah di satu sekolah. Dan khusus untuk Kabupaten Kupang, biasanya salah satu guru PNS tersebut akan ditugaskan sebagai guru bendahara gaji yang harus mengurus gaji di ibu kota Kabupaten setiap bulan. Sehingga praktis yang bersangkutan dibebastugaskan dari KBM di kelas. Dengan kondisi demikian, apakah masih mungkin jika menuntut setiap guru, termasuk para guru honorer untuk menyediakan pendidikan yang berkualitas bagi siswanya? Apakah manusiawi jka kita memaksa semua guru tersebut untuk mempersiapkan syllabus dan RPP dengan baik, sedangkan mereka pun harus melakukan pekerjaan lain untuk dapat bertahan hidup di desa.

Sebuah sekolah SLTP terbuka di Desa Nunsaen di Kabupaten Kupang, meskipun jumlah murid cukup lumayan, namun hingga kini mereka hanya diajar oleh guru2 SD. Bukan guru SLTP. Dan yang lebih memprihatinkan adalah para murid tersebut harus belajar bahasa inggris tanpa ada guru Bahasa Inggris, hanya melalui buku karena tak ada guru yang bisa berbahasa inggris. Para murid menjadi kebingungan ketika ada bule datang berkunjung mengajak conversation.....
Entah bagaimana nantinya jika para murid tersebut harus memenuhi standar kelulusan UN untuk materi Bahasa Inggris.. dan kemudian jika nantinya mereka tidak lulus, maka pemerintah akan berdalih bahwa kesalahan ada pada murid yang tidak belajar dan mempersiapkan diri, atau pada sekolah yang tidak becus mempersiapkan muridnya dalam UN alih-alih melihat faktor penyebabnya secara nyata. Pemerintah hanya bisa menuntut murid dan semua sekolah untuk memenuhi standar yang ditetapkan tanpa memenuhi tanggungjawabnya untuk menyediakan pendidikan yang berkualitas, termasuk menyediakan tenaga guru yang berkualitas secara merata.

Korelasi Pendidikan dan Kemiskinan Saat Ini

Jika menilik pada teori korelasi investasi pendidikan dengan tingkat kesejahteraan, di mana setiap tingkat investasi pada pendidikan akan menaikkan beberapa tingkat kesejahteraan. Maka bisa dimaklumi jika kesenjangan antara keluarga miskin dan keluarga kaya akan tetap lebar, bahkan semakin melebar.
Semakin tinggi kualitas pendidikan, semakin besar peluang mengakses jalan kesuksesan hidup. Imej pendidikan berkualitas biasanya dihasilkan dari sekolah/universitas bonafid (ternama). Semakin bonafid, maka semakin mahal biaya pendidikannya, semakin jelas siapa yang bisa mengakses pendidikan berkualitas tersebut, hanya anak2 dari keluarga kaya. Dan saat ini banyak lowongan pekerjaan elite yang hanya mau menerima lulusan dari sekolah/universitas yang sudah ternama tersebut.

Jika benar bahwa pendidikan yang berkualitas memberi peluang yang lebih besar untuk meraih kesuksesan hidup/ lebih mudah mendapat pekerjaan2 dengan penghasilan tinggi... maka... lebih jelas bahwa ternyata sistem pendidikan dan fenomena pendidikan akan terus melestarikan tradisi menjadi kaya bagi si kaya dan juga tradisi miskin bagi si miskin... maka bersyukurlah bagi mereka yang dilahirkan di kota dari keluarga kaya yang bisa mengakses pendidikan berkualitas dengan mudah, karena hal itu merupakan salah satu jaminan bahwa masa depan cerah, dan kasihan bagi mereka yang miskin di pedalaman yang tak pernah bisa mengakses pendidikan berkualitas dan bersiap untuk tetap menjadi miskin.

25 April 2008

Alam Kupang


Hijau rumput

Pohon Putih


Marmer Fatuleu


Pasir Tablolong