29 Mei 2007

Kelimutu



Gunung Kelimutu dapat ditempuh dalam 3-4 jam perjalanan dari kota Maumere. Atau jika kita beranjak dari kota Ende, perjalanan hanya memakan waktu sekitar 2 jam. Namun sebagian besar para turis (khususnya Wisman) lebih banyak berangkat dari kota Maumere karena mereka menghabiskan waktu sebelumnya dengan menikmati beberapa tempat wisata pantai atau diving di sekitar kota Maumere.

Di akhir bulan Desember 2006 lalu aku dapat kesempatan mengunjungi Kelimutu untuk yang kedua kali setelah di awal tahun 2004 aku pertama kali ke sana. Kebetulan saat itu aku yang masih berkantor di sebuah NGO di kota Maumere diajak temanku yang ingin menggunakan kesempatan saat di Maumere untuk melihat danau Kelimutu. Perjalanan dimulai pukul 03.30 dini hari, Sepanjang perjalanan yang berliku-liku melewati bukit dan lembah tidak dapat dinikmati karena hanya gelap di luar serta goncangan mobil Rocky Independent yang dikebut oleh om Moce yang kami rasakan.
Memasuki desa Moni di kaki gunung Kelimutu, keadaan di luar mulai terang, namun justru aku malah merasakan mual akibat mabok perjalanan. Maklumlah, dengan kondisi badan yang kurang fit akibat kurang tidur serta perut yang kosong dan diguncang-guncang di atas mobil mengakibatkan mual yang tidak tertahan. Setelah sempat istirahat sejenak menghilangkan mual, akhirnya perjalanan dilanjutkan. Memasuki gerbang masuk kawasan wisata Moni, kami harus membayar tiket masuk, 4ribu per orang.
Mobil kami terhenti di parkiran terakhir, dan tanpa diaba-aba 5 orang di dalamnya langsung berkemas, Pak Teno, Duma, om Moce, Wayan dan aku sendiri mulai menapaki tangga-tangga setapak menuju ke danau Kelimutu, jam di HP menunjukkan pukul 06 pagi lewat. Ternyata ada seorang laki-laki tua berjaket biru yang tanpa diminta bersedia menemani kami sambil membawa thermos dan seperangkat alat minum yang ditaruh di tas ranselnya. Beliau ini ternyata warga di desa terdekat yang berjarak sekitar 4 Km di bawah tempat parkir mobil terakhir. Pekerjaan sehari-harinya selain menjual minuman hangat buat wisatawan di pagi hari, juga sebagai petani sayur di siang hari.
Udara pagi pegunungan cukup menyemangati kami menaiki setapak demi setapak. Angin yang lumayan kencang menimbulkan suara yang berirama dari pepohonan cemara, ditingkahi dengan kicauan berbagai burung yang bersahutan mampu mengalahkan kelelahan yang kami rasakan. Semakin mendekati puncak danau Kelimutu, semakin kami merasakan suasana magis, alam begitu hening di antara tiupan angin dingin, warna-warni langit dipadu dengan hijaunya hutan yang sebagian masih ditutupi kabut tipis sepertinya membawa suasana yang sulit ditemukan ditempat lain. Meskipun aku sudah pernah mengunjungi tempat ini sebelumnya, namun sepertinya aku baru pertama kali berada di tempat ini. Mungkin karena saat ini tidak ada pengunjung lain yang kami temui selain aku dan keempat temanku, maklum karena kami berkunjung di hari Kamis.


Akibat terlalu sering beristirahat dan menikmati suasana, akhirnya aku menjadi orang paling akhir yang mencapai puncak Kelimutu yang ditandai dengan tugu dan prasasti yang bertuliskan kata-kata tentang riwayat dan nilai-nilai leluhur. Dari puncak ini, terlihat jelas ketiga danau yang airnya berwarna di sekiling kami, juga hamparan hijau bukit yang bergunduk-gunduk tersebar di segala sisinya. Pandangan yang cukup luas ini seakan dibatasi oleh awan yang tersebar di kejauhan. Dari ketiga danau kawah tersebut ternyata 2 di antaranya telah mengalami perubahan warna sejak aku datang pertama kali. Kawah terkecil yang berada di dekat tugu yang dulunya berwarna putih saat ini telah berwarna hitam pekat, kawah yang paling bawah yang dulunya berwarna hitam kini sedikit berubah menjadi agak coklat pekat. Sedangkan danau yang terbesar tetap berwarna hijau permata yang cukup terang.
Setelah puas mengabadikan segala sudut dan menikmati suasana sambil minum kopi dan teh panas dari pak Tua yang menemani, akhirnya kami sepakat turun karena takut pak Teno terlambat pesawat di Maumere. Ternyata benar kata orang bahwa berapa kali pun kita datang ke Kelimutu tetap kita akan merasa suasana magis yang berbeda, satu lagi keajaiban karya Tuhan yang bisa kita nikmati.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

nice Pict, bro!!